Yasser
Arafat sang Tokoh Inspiratif Dunia
Yasser Arafat
yang dikenal sebagai lelaki pemberani ini lahir di Kairo, Kerajaan Mesir,
tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1929. Lelaki ini kerap dipanggil Yasser Arafat
atau kunyah Abu Ammar. Ia dilahirkan dari pasangan suami-istri dan merupakan
anak kelima dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah seorang Palestina dari kota
Gaza bernama Abdel Raouf al-Qadwa
al-Husseini dan beribukan wanita yang merupakan warga Mesir, Zahwa Abul
Saud. Pada tahun 1944, ia masuk Universitas Raja Fuad 1 dan lulus 6 tahun
kemudian. Pada saat yang sama, ia menjadi seorang nasionalis Arab dan mulai
memasok senjata untuk diselundupkan ke wilayah bekas Mandat Britania atas
Palestina untuk pejuang non reguler Komite Tinggi Arab.
Selama
pulang Arab-Israel pada tahun 1948, Arafat meninggalkan kampusnya dan berusaha
memasuki Palestina beserta pemuda lainnya, bergabung dengan pasukan Arab dan
bertempur dengan pasukan Ikhwanul Muslimin. Tahun 1949, kemenangan condong ke
pihak lawan dan Arafat memilih pulang ke Kairo dan melanjutkan kuliahnya di
tekhnik sipil. Ia terpilih menjadi ketua umum persatuan universitas dan
universitas itu berubah nama menjadi Universitas Kairo.
Pada
tahun 1956, setelah krisis di Suez, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser
mengizinkan Pasukan Darat PBB untuk beroperasi di Semenanjung Sinai dan Jalur
Gaza. Hal ini menyebabkan pengusiran seluruh pasukan gerilya fedayeen termasuk
Arafat. Dia berusaha untuk memperoleh visa di Kanada dan Arab Saudi tetapi dia
tidak berhasil. Pada tahun 1957, ia mengirim visa ke Kuwait dan disetujui
berlatar belakang karena ia sebagai insinyur tekhnik sipil. Sementara itu,
Arafat bergaul dengan orang Palestina dan secara bertahap, ia mendirikan
pergerakan bernama Fatah yang bertujuan untuk membebaskan Palestina lewat
pasukan bersenjata Palestina oleh warga Palestina sendiri. Sesuai ideologinya,
Arafat menolak bantuan oleh negara lain untuk menjaga independensi Fatah tanpa
campur tangan mereka.
Pada
tanggal 13 November 1966, Israel melancarkan serangan atas kota As-Samu di
wilayah tepi barat yang diperintah Yordania sebagai balasan untuk Fatah akibat
bom sepanjang jalan yang membunuh 3 pasukan keamanan Israel di Selatan
perbatasan garis hijau. Serangan ini lah, yang menjadsi salah satu penyebab
Perang Enam Hari pada 5 juni 1967. Pertempuran berakhir dengan kekalahan pada
pihak Arab dan pendudukan Aisrael atas beberapa wilayah yang sebelumnya negara
Arab, termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Meskipun begitu, Arafat dengan Fatah
dapat mengklaim kemenangan. Terutama, karena mayoritas masyarakat Palestina yang saat itu masih berfaksi dan bersimpati kepada
negara-negara Arab tertentu, mulai memilih solusi "Palestina oleh
Palestina" yang ditawarkan oleh Arafat. Seminggu setelah kekalahan itu,
Arafat menyamar melintasi Sungai
Yordan dan memasuki Tepi Barat, di mana dia mendirikan pusat
perekrutan anggota baru di Hebron, sekitar Yerusalem, dan jugaNablus, dan mulai menarik simpati pejuang dan penyumbang pada
saat yang sama. Pada waktu yang sama, Nasser menghubungi Arafat lewat mantan
penasihatnya Mohamed
Hassanein Heikal, dan Nasser mendeklarasikan Arafat
sebagai "pemimpin bangsa Palestina."
Pada
awal 1990 an, Arafat dan para pemimpin Fatah lainnya terlibat dalam serangkaian
perundingan rahasia yang membuahkan perjanjian Oslo yang menyetujui
implementasi Pemerintahan Palestina yang berdaulat di Tepi Barat dan Jalur Gaza
selama 5 tahun. Sebelum penandatanganan perjanjian, Arafat sebagai ketua PLO
dan perwakilan resminya meninggalkan perjuangan perjuangan
dengan kekerasan dan mengakui Israel secara resmi. Perdana Menteri Yitzhak Rabin, mewakili Israel, juga secara resmi mengakui PLO. Pada
tahun berikutnya, Yasser Arafat bersamaan dengan Yitzhak Rabin dan Simon Peres
dianugerahkan hadiah Nobel Perdamaian.
Pada 11
November 2004, sepasukan Garda kehormatan Angkatan Darat Perancis
menyelenggarakan upacara penghormatan militer singkat untuk Arafat pada hari
pemakamannya. Dengan keranda jenazahnya diselimuti dengan bendera Palestina dan
diirini band militer memainkan lagu kebangsaan Perancis dan Palestina, juga
Mars Pemakaman Chopin. Presiden Perancis, Jacques Chirac berduiri di samping
keranda Arafat selama 10 menit untuk memberikan penghormatan terakhir pada lelaki
yang ia sebut sebagai “lelaki yang penuh keberanian” itu. Esoknya, jenazah
Arafat diterbangkan ke Kairo. Ia wafat pada tanggal 11 November 2004 saat
umurnya mencapai 75 tahun di Paris, Perancis.
Sebagai
lelaki yang pemberani ini, Yasser sangat membuat perubahan pada dunia, terutama
bagi Palestina. Kegigihannya telah membangun tatanan keadilan, menyejahterahkan
seluruh rakyat, serta membebaskan Palestina lewat berbagai serangannya.
Berkali-kali nyawa nya terancam, tetapi ia tetap setia memperjuangkan
kemerdekaan Palestina. Semoga apa yang dilakukan Yasser Arafat ini dapat
menginspirasi rakyat untuk terus pantang menyerah menghadapi masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar